Selasa, 11 Februari 2020

Sifat Kimia Ipa kelas 9, Selasa 11 Februari 2020 Sifat Kimia Sifat kimia zat adalah kesanggupan suatu zat untuk mengadakan reaksi kimia sehingga terjadi perubahan. Sifat kimia zat dapat diketahui dengan beberapa cara. a. Sifat Kimia dengan Pembakaran Zat dibakar, sehingga diketahui zat itu mudah terbakar, sulit, atau tidak dapat dibakar. Besi, baja, garam, dan air secara kimia tidak dapat terbakar. b. Sifat Reaksi Kimia Suatu zat direaksikan atau dicampur dengan zat lain, sehingga diketahui menghasilkan zat baru, endapan, perubahan suhu, atau perubahan warna. Besi diberi cuka dan udara akan menjadi keropos dan timbul karat. Karbon dioksida diberi air kapur, maka air kapur menjadi keruh karena ada endapan kapur. Sifat kimia adalah ciri-ciri suatu zat yang berhubungan dengan terbentuknya zat jenis baru. Contohnya, besi termasuk logam yang paling mudah bereaksi dengan oksigen, sehingga mudah berkarat. Berkarat merupakan salah satu sifat kimia dari zat. Berikut ini adalah beberapa contoh sifat kimia suatu zat. Mudah terbakar Mudah terbakar merupakan sifat kimia yang dimiliki zat dalam hubungannya dengan kenaikan suhu. Contoh zat kimia yang mudah terbakar adalah bensin dan LPG. Membusuk dan asam Terjadinya reaksi kimia dalam makanan atau minuman, maka dapat menyebabkan makanan dan minuman tersebut membusuk dan berubah rasa menjadi masam. Contohnya, nasi yang dibiarkan berhari-hari akan bereaksi dengan udara sehingga nasi menjadi basi. Contoh lainnya adalah susu yang berubah rasa menjadi masam. Berkarat Reaksi antara logam dengan oksigen dapat mengakibatkan logam tersebut berkarat. Logam seperti besi dan seng memiliki sifat mudah berkarat. Terdapat pula benda-benda yang tidak mudah berkarat, misalnya plastik dan kaca. Mudah meledak Interaksi antara zat dengan oksigen di alam ada yang memiliki sifat mudah meledak, misalnya magnesium, uraniu,, dan natrium. Beracun Terdapat beberapa zat yang memiliki sifat kimia beracun, misalnya pestisida, fungisida, herbisida, dan rodentisida yang digunakan manusia untuk membasmi hama, baik serangga maupun tikus. Memiliki pH (Power of Hydrogen) pH menyatakan tingkat keasaman suatu zat. Nilai pH berkisar dari satu sampai dengan empat belas. Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan bahwa zat tersebut bersifat asam. Nilai pH sama dengan 7 menyatakan bahwa zat tersebut bersifat netral. Sedangkan nilai pH lebih dari 7 menujukkan zat tersebut bersifat basa.

Senin, 10 Februari 2020

Sifat Fisika Ipa kelas 9, Senin 10 Februari 2020 Sifat fisika adalah segala aspek dari suatu objek atau zat yang dapat diukur atau dipersepsikan tanpa mengubah identitasnya. Sifat fisik dapat berupa sifat intensif atau ekstensif. Sifat intensif tidak tergantung pada ukuran dan jumlah materi pada objek, sedangkan sifat ekstensif bergantung pada hal tersebut. Sebagai tambahan, suatu sifat dapat pula berupa isotropik jika nilainya tidak tergantung arah pengamatan atau anisotropik jika sebaliknya. Sifat fisika yang terlihat ini maksudnya, sifat ini dapat dilihat dan diamati dari: Wujud zat : padat, cair, dan gas Kekerasan zat : keras atau lunak Warna zat : hitam, putih, merah, kuning, dan berbagai warna lainnya Bau zat : harum, anyir, busuk, dan sebagainya Bentuk : bulat, bundar, persegi, segitiga, empat persegi panjang, balok, kubus, dan sebagainya. Tetapan fisika : massa jenis, titik lebur, titik uap, titik beku, titik didih, indeks bias, dan sebagainya. Sifat perubahan fisika berarti sifat ini dapat terjadi dan dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya: Melarutkan zat : mudah larut di air atau tidak Mengalirkan arus listrik : dapat mengalirkan arus listrik atau tidak Mengalirkan panas : dapat mengalirkan panas atau tidak Menguapkan : mudah menguap atau tidak Mendekatkan ke magnet: dapat ditarik magnet atau tidak dan berbagai kegiatan fisika lainnya. Sifat ini dapat diamati dari: 1) Wujud zat : padat, cair, dan gas 2) Kekerasan zat : keras atau lunak 3) Warna zat : hitam, putih, merah, kuning, dan berbagai warna lainnya 4) Bau zat : harum, anyir, busuk, dan sebagainya 5) Bentuk : bulat, bundar, persegi, segitiga, empat persegi panjang, balok, kubus, dan sebagainya. 6) Tetapan fisika : massa jenis, titik lebur, titik uap, titik beku, titik didih, indeks bias, dan sebagainya. b. Sifat Perubahan Fisika Sifat ini dapat dilakukan dengan cara; 1) Melarutkan zat : mudah larut di air atau tidak 2) Mengalirkan arus listrik : dapat mengalirkan arus listrik atau tidak 3) Mengalirkan panas : dapat mengalirkan panas atau tidak 4) Menguapkan : mudah menguap atau tidak 5) Mendekatkan ke magnet: dapat ditarik magnet atau tidak 6) dan berbagai kegiatan fisika lainnya.

Jumat, 07 Februari 2020

Identifikasi unsur Ipa kelas 9, jum’at 7 Februari 2020 Uji nyala api adalah suatu prosedur analisis yang digunakan dalam ilmu kimia untuk mendeteksi keberadaan unsur tertentu, terutama ion logam, berdasarkan karakteristik spektrum emisi masing-masing unsur. Warna nyala api secara umum juga bergantung pada temperatur; lihat warna nyala. Uji ini melibatkan introduksi sampel suatu unsur atau senyawa ke dalam nyala api panas, tak berwarna, dan mengamati warna nyala yang dihasilkan. Ide pengujian ini adalah bahwa atom-atom sampel menguap dan karena panas, mereka mengemisikan sinar ketika berada dalam nyala api. Sampel curah juga memancarkan cahaya, tetapi cahayanya tidak baik untuk analisis. Sampel curah memancarkan cahaya terutama karena pergerakan atom-atomnya, sehingga spektrumnya lebar, yang terdiri dari rentang warna yang luas. Atom-atom sampel yang terpisah dalam nyala api dapat mengalami emisi hanya karena transisi elektron antara tingkat energi atom. Transisi tersebut mengemisikan cahaya dengan frekuensi yang sangat spesifik, yang tidak lain merupakan karakteristik unsur kimia itu sendiri. Oleh karena itu, nyala api menjadi berwarna, yang ditentukan terutama oleh sifat-sifat unsur kimia yang dimasukkan ke dalam nyala. Uji nyala api adalah percobaan yang relatif mudah dilakukan, sehingga sering didemonstrasikan atau dilakukan dalam kelas sains di sekolah-sekolah. Untuk keperluan analisis kualitatif anorganik, uji nyala api sering digunakan sebagai uji pendahuluan, dan termasuk uji organoleptik. Sampel biasanya ditaruh pada seutas kawat platina yang dicuci berulang kali dengan asam klorida untuk menghilangkan sisa analit sebelumnya.[1] Senyawa biasanya dibuat menjadi pasta dengan asam klorida pekat, sebagai halida logam, yang mudah menguap, sehingga memberikan hasil yang lebih baik. Nyala api yang berbeda-beda harus dicoba untuk menghindari kesalahan data akibat nyala api yang "terkontaminasi", atau kadang-kadang untuk memverifikasi akurasi warna. Pada mata pelajaran kimia di sekolah menengah, kadang-kadang digunakan bidai (splint) kayu, karena larutan dapat dikeringkan di atasnya, dan harganya murah. Kadang-kadang juga digunakan kawat nikrom.[1] Penggunaan bidai harus dilakukan secara hati-hati dengan melambaikan bidai melewati nyala api, dan bukannya dengan memegangnya sehingga bidai terpapar nyala api dalam waktu lama. Hal ini untuk menghindari bidai terbakar. Penggunaan kapas pentul[2] (bahasa Inggris: cotton swab (US) atau cotton bud (UK)) atau busa melamin (yang digunakan pada spons penghapus)[3] sebagai penyangga juga telah disarankan. Natrium adalah komponen atau kontaminan umum dalam banyak senyawa dan spektrumnya cenderung mendominasi warna nyala. Uji nyala api sering dilihat melalui kaca kobalt biru untuk menyaring warna kuning natrium dan memudahkan pengamatan ion logam lainnya. Uji nyala api adalah praktik yang cepat dan mudah, dan dapat dilakukan dengan peralatan dasar yang dijumpai di sebagian besar laboratorium kimia. Namun, jumlah unsur yang terdeteksi positif pada kondisi ini sangat sedikit, mengingat pengujian ini lebih bergantung pada pengalaman subyektif pelaku percobaan daripada objek percobaan. Uji ini memiliki kesulitan dalam mendeteksi beberapa unsur dalam jumlah kecil, sementara jika terlalu besar juga cenderung memudarkan warna nyala hingga tidak muncul sama sekali. Meskipun uji nyala api hanya memberikan informasi kualitatif, bukan data kuantitatif tentang proporsi unsur dalam sampel, data kuantitatif dapat diperoleh menggunakan teknik terkait yaitu fotometri nyala atau spektroskopi emisi nyala. Instrumen spektroskopi serapan atom nyala api, yang dibuat oleh misalnya Perkin Elmer atau Shimadzu, dapat dioperasikan pada moda emisi menurut panduan peralatan.[4]

Kamis, 06 Februari 2020

Ion dan ikatan ion Ipa kelas 9, Kamis 6 Februari 2020 Ikatan ion terjadi akibat adanya serah terima elektron sehingga membentuk ion positif dan ion negatif yang konfigurasi elektronnya sama dengan gas mulia. Ion positif dan ion negatif diikat oleh suatu gaya elektrostatik. Senyawa yang dihasilkan disebut senyawa ion. Salah satu contoh yang sering kita jumpai sehari-hari adalah garam dapur. Nah, garam dapur itu rumus kimianya adalah NaCl (Natrium klorida). Dalam NaCl padat terdapat ikatan antara ion Na+ dan ion Cl- dengan gaya elektrostatik, sehingga disebut ikatan ion. Bentuk kristal NaCl merupakan rangkaian antara ion Na+ dan ion Cl-. Satu ion Na+ dikelilingi oleh enam ion Cl- dan satu ion Cl- dikelilingi oleh enam ion Na+ Seperti yang telah dibahas pada kaidah oktet sebelumnya, setiap unsur harus berusaha memiliki konfigurasi elektron seperti gas mulia, bisa dengan melepaskan elektron ataupun menerima elektron, supaya stabil. Peristiwa serah terima elektron ini terjadi pada senyawa NaCl alias garam dapur. Bagaimana ceritanya? Na merupakan golongan IA dimana IA memiliki elektron valensi 1, sehingga supaya stabil IA harus melepas 1 elektron. Kalo dilihat dari konfigurasi elektronnya, 11Na: 2, 8, 1. Sehingga ketika melepas 1 elektron, maka elektron paling terakhinya menjadi 8 (sesuai kaidah oktet). Karena melepas 1 elektron, maka Na yang asalnya netral berubah menjadi bermuatan +1 (Na+). Reaksinya: Na → Na+ + e- (artinya Na melepas 1 elektron, lihat elektron berada di sebelah kiri panah) Oke, sekarang kira-kira ke mana tuh 1 elektron tadi yang dilepas Na? Hilang? Tidak, di sana ada yang menangkapnya yaitu si Cl. Kenapa bisa? Karena Cl memiliki elektron valensi 7 (dia golongan VIIA). Ya kalau dilihat dari konfigurasi elektronnya 17Cl : 2, 8, 7. Jadi kalau Cl menangkap 1 elektron, konfigurasinya menjadi 2, 8, 8, dengan elektron terakhirnya 8, ini sudah mematuhi kaidah oktet. Karena Cl menangkap 1 elektron maka Cl yang asalnya netral berubah menjadi -1 (Cl-). Reaksinya: Cl + e- → Cl- (artinya Cl menerima 1 elektron, lihat elektron berada di sebelah kiri panah Nah sekarang, apa pengaruhnya pembentukan Na+ dan Cl- ini? Sesuai Hukum Coulomb, muatan yang berbeda jenis akan saling tarik menarik. Sehingga Na+ ini akan berikatan dengan Cl- dengan gaya elektrostatik. Na+ + Cl- → NaCl Ciri-Ciri Atau Sifat Ikatan Ion Keberadaan ikatan ion mempengaruhi sifat kimia dan fisik dari senyawa yang dihasilkan. Ada ada beberapa karakteristik menonjol dari ikatan ion dan di sini yaitu daftar dari beberapa karakteristik berikut: Karena dari kenyataan bahwa logam cenderung kehilangan elektron dan non-logam cenderung untuk mendapatkan elektron, ikatan ion yang umum antara logam dan non-logam. Oleh sebab itu, tidak seperti ikatan kovalen yang hanya bisa terbentuk antara non-logam, ikatan ion bisa terbentuk antara logam dan non-logam. Sementara penamaan senyawa ion, nama logam selalu datang pertama dan nama non-logam datang kedua. Misalnya, dalam kasus natrium klorida (NaCl), natrium adalah logam sedangkan klorin adalah non-logam. Senyawa yang mengandung ikatan ion mudah larut dalam air serta beberapa pelarut polar lainnya. Ikatan ion, dengan demikian, mempunyai efek pada kelarutan senyawa yang dihasilkan. Ketika senyawa ion dilarutkan dalam pelarut untuk membentuk larutan homogen, larutan cenderung untuk menghantarkan listrik. Ikatan ion mempunyai efek pada titik leleh senyawa juga, karena senyawa ion cenderung mempunyai titik leleh yang lebih tinggi, yang berarti bahwa ikatan ion tetap stabil untuk rentang suhu yang lebih besar. Ikatan ion terjadi karena adanya gaya tarik-menarik antar ion yang bermuatan positif dan ion yang bermuatan negative. Ikatan ion terbentuk antara: ion positif dengan ion negatif, atom-atom berenergi potensial ionisasi kecil dengan atom-atom berafinitas elektron besar (Atom-atom unsur golongan IA, IIA dengan atom-atom unsur golongan VIA, VIIA), atom-atom dengan keelektronegatifan kecil dengan atom-atom yang mempunyai keelectronegatifan besar Contoh Ikatan Ion Contoh yang paling umum dari ikatan ion yaitu pembentukan natrium klorida di mana sebuah atom natrium menggabungkan dengan atom klorin. Mari kita lihat pada konfigurasi elektronik masing-masing. Natrium (Na): 2,8,1 dan Klorin (Cl): 2, 8, 7. Dengan demikian, kita melihat bahwa sebuah atom klorin membutuhkan satu elektron untuk mencapai konfigurasi terdekat yakni gas mulia Argon (2,8,8). Sebuah atom natrium, di sisi lain, membutuhkan untuk menyingkirkan elektron tunggal di kulit terluar untuk memperoleh konfigurasi terdekat mulia yaitu gas Neon (2,8). Ikatan Ion Nacl Ikatan Ion pada Natrium klorida (NaCl) Dalam skenario seperti itu, atom natrium menyumbangkan elektron terluar pada atom klorin, yang hanya membutuhkan satu elektron untuk mencapai konfigurasi oktet. Ion natrium menjadi bermuatan positif karena kehilangan elektron, sedangkan ion klorida menjadi bermuatan negatif karena penambahan sebuah elektron tambahan. Ion yang bermuatan berlawanan terbentuk, tertarik satu sama lain dan mengakibatkan membentuk ikatan ion.

Rabu, 05 Februari 2020

Konfigurasi Elektron Ipa kelas 9, Rabu 5 Februari 2020 Dalam fisika atom dan kimia kuantum, konfigurasi elektron adalah susunan elektron-elektron pada sebuah atom, molekul, atau struktur fisik lainnya.[1] Sama seperti partikel elementer lainnya, elektron patuh pada hukum mekanika kuantum dan menampilkan sifat-sifat bak-partikel maupun bak-gelombang. Secara formal, keadaan kuantum elektron tertentu ditentukan oleh fungsi gelombangnya, yaitu sebuah fungsi ruang dan waktu yang bernilai kompleks. Menurut interpretasi mekanika kuantum Copenhagen, posisi sebuah elektron tidak bisa ditentukan kecuali setelah adanya aksi pengukuran yang menyebabkannya untuk bisa dideteksi. Probabilitas aksi pengukuran akan mendeteksi sebuah elektron pada titik tertentu pada ruang adalah proporsional terhadap kuadrat nilai absolut fungsi gelombang pada titik tersebut. Elektron-elektron dapat berpindah dari satu aras energi ke aras energi yang lainnya dengan emisi atau absorpsi kuantum energi dalam bentuk foton. Oleh karena asas larangan Pauli, tidak boleh ada lebih dari dua elektron yang dapat menempati sebuah orbital atom, sehingga elektron hanya akan meloncat dari satu orbital ke orbital yang lainnya hanya jika terdapat kekosongan di dalamnya. Pengetahuan atas konfigurasi elektron atom-atom sangat berguna dalam membantu pemahaman struktur tabel periodik unsur-unsur. Konsep ini juga berguna dalam menjelaskan ikatan kimia yang menjaga atom-atom tetap bersama. Elektron melakukan orbit pada tingkatan energi tertentu, sementara Konfigurasi elektron adalah susunan penyebaran (pengisian) elektron-elektron dalam. Di dalam atom terdapat partikel subatomik neutron dan proton yang terdapat pada inti atom, dan elektron yang bergerak mengelilingi inti atom tersebut pada kulit-kulit elektron (level-level energi) yang tertentu. Jika nilai n dalam konfigurasi elektron semakin besar, maka bisa mengakibatkan kulit elektron semakin jauh dari inti atom serta energi elektron akan membesar pada kulit yang terkait. Menyebabkan elektron tersebut mengisi bagian kulit pada atom, berawal dari kulit K yang memiliki tingkat energi paling rendah. Namun kulit elektron hanya bisa diisi oleh beberapa jumlah elektron saja. Jumlah maksimal elektron yang yapat mengisi bagian kulit elektron ke n ialah 2n2, dan untuk jumlah maksimal pada bagian kulit elektron terluar dalam atom ialah 8. Hal yang kamu harus ingat bahwa : – Orbital s diisi 2 elektron – Orbital p diisi 6 elektron – Orbital d diisi 10 elektron – Orbital f diisi 14 elektron Contoh Soal Ditanya : Tentukan konfigurasi elektron dan jumlah elektron pada setiap kulit elektron atom Ni (Z = 28) dan Sr (Z = 38)! Jawab :Ni (Z = 28) maka konfigurasinya adalah 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d8 atau [Ar] 4s2 3d8 dan jumlah elektron pada setiap kulit adalah K berjumlah 2, L berjumlah 8, M berjumlah 16 dan N berjumlah 2Sr (Z = 38) maka konfigurasinya adalah 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d8 5s2atau [Kr] 5s2dan jumlah elektron pada setiap kulit adalah K berjumlah 2, L berjumlah 8, M berjumlah 18, N berjumlah 2, dan O berjumlah 2.

Selasa, 04 Februari 2020

Nomor atom dan nomor massa Ipa kelas 9, Selasa 4 Februari 2020 Nomor massa (simbol A, dari kata Jerman Atomgewicht (berat atom),[1] juga disebut nomor massa atom atau nomor nukleon, adalah jumlah total proton dan neutron (bersama-sama dikenal sebagai nukleon) dalam inti atom. Ini menentukan massa atomik dari atom. Karena proton dan neutron keduanya adalah barion, bilangan massa A identik dengan bilangan barion B pada nukleus pada seluruh atom atau ion. Jumlah massa berbeda untuk setiap isotop unsur kimia yang berbeda. Ini tidak sama dengan nomor atom (Z) yang menunjukkan jumlah proton dalam nukleus, dan dengan demikian secara unik mengidentifikasi suatu unsur. Oleh karena itu, selisih perbedaan antara jumlah massa dengan nomor atom akan memberikan jumlah neutron (N) dalam nukleus adalah: N = A − Z {\displaystyle N=A-Z}. [2] Nomor massa ditulis setelah nama elemen atau sebagai superskrip di sebelah kiri simbol elemen. Sebagai contoh, isotop karbon yang paling umum adalah karbon-12, yang memiliki 6 proton dan 6 neutron. Simbol isotop penuh juga akan memiliki nomor atom (Z) sebagai subskrip di sebelah kiri simbol elemen langsung di bawah nomor massa: 12 6C.[3] Ini secara teknis redundan, karena setiap elemen didefinisikan oleh nomor atomnya, sehingga sering dihilangkan. Setelah memahami konsep di atas, sekarang mari kita hitung berapa banyak jumlah proton, elektron, dan neutron jika diketahui notasi dari suatu unsur? Perhatikan baik-baik gambar di bawah ini: notasi atom X: Simbol dari unsur a: Nomor atom merupakan jumlah proton. Saat netral (tidak bermuatan) akan sama dengan jumlah elektron. b: Nomor massa melambangkan jumlah proton ditambah jumlah neutron atau disebut juga jumlah nukleon. c: Muatan/bilangan oksidasi (biloks) terdiri dari melepas elektron (positif) dan menangkap elektron atau bertambah (negatif). notasi atom Keterangan: proton = 11 elektron = 11 (karena sama dengan proton yang netral/tidak bermuatan) massa = 23 neutron = massa - proton = 12 Pembahasan di atas merupakan contoh proton netral. Bagaimana jika bermuatan atau yang disebut dengan ion? Kita coba dengan ion positif ya! Artinya melepas elektron. notasi atom Keterangan: proton = 20 elektron = 20 - 2 = 18 (karena muatan positif berarti elektron dilepas ya) neutron = 40 - 20 =20 Sekarang, kita bahas ion negatif ya! notasi atom Keterangan: proton = 16 elektron = 16 + 2 = 18 (karena menangkap 2 elektron) neutron = 32 - 16 = 16

Senin, 03 Februari 2020

Partikel subatom Ipa kelas 9,senin 3 Februari 2020 Pengertian Partikel Subatom Partikel subatom atau zarah adalah partikel yang berbentuk lebih kecil dibandingkan atom. Sekitar tahun 1940, jumlah partikel subatomik yang dikenal dengan ilmu yang bisa dihitung dengan jari satu tangan, proton, neutron, elektron, neutrino, dan positron. Tiga partikel pertama disebut sebagai blog bangunan yang mana atom bibuat; proton dan neutron dalam inti atom dan elektron di orbit sekitar inti mereka. Neutrino dan Positron yang lebih aneh ditemukan di luar atmosfer bumi dan berasal tidak pasti/signifikan. Pandangan materi berubah dengan dramatis selama dua dekade selanjutnya. Dengan penemuan akselerator partikel (atom-smashers) dan penemuan fisi nuklir dan fusi, jumlah partikel subatomik diumumkan meningkat. Sejumlah ilmuwan kimia menemukan sejumlah partikel yang ada pada energi yang lebih tinggi dibanding yang seringkali diamati di kehidupan sehari-hari: partikel sigma, partikel delta, partikel lambda, epsilon partikel, dan partikel-partikel lainya berupa positif, negatif dan netral. Di akhir tahun kira-kira 1950, banyak partikel subatom yang telah ditemukan oleh beberapa fisikawan, dan disebut mereka sebagai daftar “kebun binatang partikel”. Model Quark Sekitar di tahun 1964, ahli fisikawan Amerika Murray Gell-Mann (1929) dan Swiss fisikawan George Zweig (1937) secara independen memberi usul jalan keluar dari kebun binatang partikel. Mereka memberi saran bahwa hampir dari 100 partikel subatomik yang telah ditemukan sejauh ini tidak benar-benar dasar (fundamental) partikel. Jenis-Jenis Partikel Subatom Yang Penting Terdapat lima partikel subatom yang paling penting antara lain adalah proton, neutron, elektron, neutrino, dan positron. Masing-masing partike tersebut dapat dijelaskan secara penuh oleh massa, muatan listrik, dan berputar. Karena massa partike subatomik sangat kecil, seringkali tidak diukur dalam ons atau gram tetapi dalam satuan atom massa (label: amu) atau elektron volt (label: eV). Suatu unit massa atom kira-kira mirip dengan massa proton/neutron. Suatu volt elektron sebenarnya adalah satuan energi tetapi dapat digunakan untuk mengukur suatu massa karena hubungan antara massa dan energi ( E = mc 2). Berikut ini adalah penjelasan tentang lima partikel paling penting subatom. 1. Proton Proton ialah suatu partikel subatomik yang muatannya positif dengan massa atom sekitar 1 Amu. Proton adalah salah satu konstituen fundamental dari seluruh atom. Seiring dengan neutron, mereka ditemukan di kawasan yang sangat terkonsentrasi ruang dalam atom yang disebut dengan inti. Jumlah proton menentukan identitas kimia atom. Properti ini sangat penting bahwa itu diberi nama khusus: nomor atom. Masing-masing elemen di tabel periodik memiliki nomor unik proton dalam inti dan, karenanya beberapa atom yang unik. 2. Neutron Suatu neutron memiliki massa sekitar 1 Amu dan tidak mempunyai muatan listrik. Hal ini ditemukan dalam inti atom secara bersama dengan proton. Neutron yang seringkali partikel yang stabbil dalam hal tersebut dapat teap atau tidak berubah dalam inti untuk jangka waktu tak terbatas. Pada kondisi tertentu, bagaimanapun neutron dapat menjalani peluruhan spontan, berantakan menjadi proton dan elektron. Apabila tidak ada dengan inti atom, waktu paruh untuk perubahan ini waktu yang dibutuhkan untuk setengah dari masing-masing sampel neutron untuk menjalani peluruhan adalah sekitar 11 menit. 3. Elektron Elektron adalah partikel yang mengusung satu unit listrik negatif dengan massa kira-kira 1/1800 Amu, atau 0,0055 Amu. Seluruh atom mengandung satu atau lebih elektron yang letaknya di ruang luar inti atom. Elektron diatur dalam area tertentu dari atom yang dikenal denagn tingkat energi. Masing-masing tingkat energi di atom dapat berisi beberapa jumlah maksimum elektron, mulai dua sampai maksimum delapan.